wonokerto.ngawikab.id – Jawa dan Islam telah mengalami akulrurasi budaya dalam puluhan abad persinggunganya. Hal ini tampak dalam keseluruhan aspek budaya Jawa,. Termasuk dalam hal penanggalan, budaya Jawa mengadopsi sistem penanggalan Islam/kalender komariah, yaitu sistem penanggalan yang berbasis peredaran bulan. Dalam sistem penanggalan ini, hari pertama dimulai pada bulan Muharram atau orang Jawa menyebutnya dengan Wulan Suro.

Masyarakat yang tinggal di Jawa memiliki berbagai ragam tradisi unik dalam menyambut kedatangan tahun baru Islam. Di Keraton Yogyakarta, dikenal tradisi ‘mubeng beteng’, berjalan kaki bersama-sama mengelilingi benteng keraton. Masyarakat luas juga mengenal tradisi Jamasan, yaitu pembersihan dan perawatan gaman/senjata yang dilakukan pada malam Suro. Selain itu, banyak juga warga masyarakat yang melakukan tirakatan, doa bersama, renungan, dan sebagainya.

Tradisi yang sudah berlaku bagi masyarakat Desa Wonokerto setiap datang malam 1 Suro adalah tirakatan atau doa bersama di pendopo Desa. Tahun 2020 ini, acara dilaksanakan pada 7 September kemarin. Dimulai pada jam 19.00 WIB, acara dihadiri sekitar 100 orang warga undangan, baik dari unsur pemerintah desa, BPD, LKMD, tokoh masyarakat, tokoh Agama, dan masyarakat luas. Acara berjalan dengan lancar, meski dilaksanakan dalam suasana pandemi Covid 19. Warga dan para undangan dengan tertib selalu melaksanakan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan selalu cuci tangan.

Dalam pengantarnya, Bu Siti Moasri, kepala desa Wonokerto menyampaikan bahwa memang sudah sepatutnya kita selalu introspeksi, muhasabah diri, mengkoreksi diri sendiri. Tidak lain agar kita selalu memperbaiki diri, meningkatkan kualitas karya kita, serta memperbaiki segala kekeliruan kita di masa lalu. Ditekankan oleh beliau, malam tahun baru Islam ini hendaknya dijadikan momentum introspeksi dan kedepannya diri kita akan menjadi lebih baik lagi.

Sementara itu, dalam uraian muqoddimahnya Modin desa Wonokerto, Pak Sapingi menjelaskan bahwa tirakat adalah istilah jawa yang artinya menahan diri, menjalankan laku. Tak lain adalah untuk meraih suatu keinginan maupun tujuan yang kita inginkan dalam hidup. Tirakat ini merupakan sikap hidup yang pas dan selaras kita lakukan dalam suasana pandemi seperti ini, dengan doa dan harapan agar cobaan pagebluk ini segera diangkat oleh Allah SWT dari muka bumi.

Selanjutnya, dipandu oleh beliau Pak Yai Zainal Arifin Al Hafidz, seluruh hadirin mengumandangkan dzikir dan wirid berupa surat-surat pendek dan kalimah thayyibah bersama-sama dengan khidmat. Hal ini dilakukan sebagai wujud istighotsah, meminta keselamatan kepada Allah untuk tahun-tahun ke depan, serta memohon dijauhkan dari segala aral dan bencana, bagi pemerintah desa Wonokerto pada khususnya, dan bagi segenap warga masyarakat desa Wonokerto.

Seusai acara doa, warga masyarakat saling beramah-tamah dan bersama-sama menikmati hidangan yang disediakan. Selain sebagai sarana doa bersama, acara seperti ini penting juga untuk menjalin silaturahmi antar warga dari berbagai dusun yang berbeda. Suasana guyub dan rukun sangat berkesan dari acara ini. Meski jarang bertemu, diantara mereka saling bertukar kabar dan bercengkerama hingga acara usai.

Share and Enjoy !

Shares