Penyerapan Anggaran Desa Wonokerto Sesuai Target

Penyerapan Anggaran Desa Wonokerto Sesuai Target

Pertengahan Bulan Desember adalah waktu bagi semua instansi untuk segera menyelesaikan segala program-programnya. Hal itu karena sebentar lagi sudah memasuki tahun anggaran baru, artinya pelaksanaan anggaran untuk tahun 2020 ini akan segera berakhir. Begitu juga yang telah dilakukan oleh Pemerintah Desa Wonokerto. Hingga hari ini, (15/12) anggaran sudah terserap sebesar 98,99% dann terproyeksikan terserap keseluruhannya hingga akhir tahun.

Adapun postur anggaran Desa Wonokerto beserta rincian penyerapannya dapat dicermati dalam tabel berikut ini:

Report-2020-12-15T093643.498

Share and Enjoy !

Shares

Musyawarah Desa Khusus Bantuan Langsung Tunai Penanggulangan Covid-19

Pandemi virus corona sangat mempengaruhi segala lini kehidupan masyarakat. Tak terkecuali pemerintah desa Wonokerto juga menerima imbas dari adanya wabah ini. Rencana Pembangunan Desa yang telah disusun rapi mau tidak mau harus disusun ulang guna menampung upaya penanggulangan penyebaran wabah covid 19. Termasuk juga upaya antisipasi depresi perekonomian masyarakat imbas wabah covid 19 melalui program BLT yang dialokasikan dari dana desa (DD).

Meski telah melakukan dua kali perubahan postur anggaran, namun hal itu masih dirasa kurang cukup mewadahi aktivitas penanggulangan wabah ini. Pada pertengahan oktober lalu, datang perintah dinas untuk memperpanjang masa manfaat pemberian BLT untuk masyarakat kurang mampu di Des Wonokerto.

Berdasarkan Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 14 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga Peraturan Menteri Desa, PDTT Nomor 11 Tahun 2019 tentang Prioritas Dana Desa Tahun 2020, bagi desa yang masih memiliki anggaran yang cukup, diharuskan memperpanjang masa penerimaan BLT DD hingga akhir bulan Desember 2020. Perubahan tersebut otomatis menuntut perubahan Anggaran dan Belanja Desa. Oleh sebab itulah, pemerintah desa Wonokerto merasa perlu meminta BPD untuk melaksanakan Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) pembahasan perpanjangan BLT sekaligus perubahan APBDes.

Acara dilaksanakan pada pukul 09.00 hari Rabu, 28 Oktober kemarin. Bertempat di balai desa Wonokerto, acara dihadiri sekitar 70 orang undangan dari berbagai unsur masyarakat. Hadir pula di pagi hari itu peninjau dari kecamatan, pendamping desa, babinsa, dan juga bhabinkamtibmas. Peserta musyawarah segera membahas kelanjutan program BLT DD sesuai dengan kisi-kisi dari Mendes PDTT.

Akhirnya, peserta musyawarah menyepakati untuk memperpanjang layanan Bantuan BLT DD hingga bulan Desember dengan mengambil anggaran dari program pavingisasi jalan depan kantor desa. Sisa dari anggaran tersebut akan dialokasikan untuk pembuatan talud di Dusun Sendangembes dan Sumberagung. Demikian musyawarah desa khusus kali ini berjalan dengan tertib dan lancar. Acara diakhiri dengan memanjatkan doa bersama demi kelancaran dan kemajuan pembangunan desa Wonokerto di masa mendatang.

Share and Enjoy !

Shares
Musrenbangdes: Gagal dalam Merencanakan Sama dengan Merencanakan Kegagalan

Musrenbangdes: Gagal dalam Merencanakan Sama dengan Merencanakan Kegagalan

Wonokerto.ngawikab.id – Salah satu langkah penting dalam penyusunan RKPDes adalah menyelenggarakan musrenbangdes. Hal inilah yang dilaksanakan pemerintah desa Wonokerto pada hari Selasa, 22 September 2020. Bertempat di balai desa Wonokerto, acara dihadiri oleh 75 orang undangan. Pemerintaha Desa Wonokerto selaku tuan rumah telah menyiapkan segala sarana yang diperlukan dengan baik sejak pagi sebelum acara dimulai.

Sekitar pukul 08.30, para undangan mulai hadir memadati balai desa. Baik dari unsur perangkat desa, BPD, maupun tokoh masyarakat semua menempati tempat duduk yang telah disediakan dengan teratur dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Acara juga dihadiri oleh babinsa, babinkamtibmas serta tim peninjau dari Kecamatan Kedunggalar.

Acara dimulai dengan mengumandangkan Indonesia Raya secara bersama-sama. Selanjutnya arahan dan sambutan masing-masing disampaikan oleh Ketua BPD, Kepala Desa, dan selanjutnya oleh perwakilan tim dari Kecamatan Kedunggalar.

Musyawarah berjalan dengan diawali oleh penyampaian program pembangunan tahun 2021 oleh ketua Tim RKP, yang selanjutnya langsung ditanggapi oleh peserta musyawarah. Berbagai hal diutarakan peserta terkait masalah RT/RW, madrasah diniyah, pembangunan jalan usaha tani, dan sebagainya. Berbekal dari masukan dan usulan dari bebagai pihak itulah, pemerintah desa menyempurnakan RKP desa Wonokerto tahun 2021.

Selanjutnya, dilakukan penandatanganan kesepakatan atas rancangan RKPDes tersebut antara ketua BPD dan Kepala Desa Wonokerto yang disaksikan oleh tokoh masyarakat. Agenda selanjutnya, Perdes tentang RKPDes tersebut akan segera dikirimkan ke pemerintah kecamatan Kedunggalar untuk mendapatkan persetujuan.

Share and Enjoy !

Shares
BNPB Peduli Masyarakat Desa Wonokerto

BNPB Peduli Masyarakat Desa Wonokerto

Wonokerto.ngawikab.id – Meski telah berlalu beberapa bulan setelah di temukannya kasus pertama di Indonesia, wabah corona belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Justru menurut angka statistik penderita baru, tren akhir-akhir ini menunjukkan angka peningkatan. Hal ini menjadikan beberapa pihak terkait meningkatkan kewaspadaannya serta menggiatkan lagi usaha-usaha untuk menangkal penyebaran virus yang terkenal cukup berbahaya ini.

Salah satu pihak yang tidak mau kalah dalam hal ini adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi. Badan Pemerintah yang bertanggung jawab akan kegiatan tanggap bencana ini membagikan sarana alat cuci tangan untuk masyarakat desa. Bantuan didistribusikan melalui tiap kecamatan di Kabupaten Ngawi.

Untuk desa Wonokerto, Kecamatan memberikan jatah 28 paket bantuam alat cuci tangan beserta cairan desinfektan yang akan dibagikan kepada 7 dusun. Pemberian bantuan ini diprioritaskan kepada tempat-tempat yang selalu ramai dikunjungi banyak orang, semisal warung-warung dan juga rumah kepala dusun. Semuanya telah didistribusikan pada hari Kamis, 6 Agusutus 2020 kemarin.

“Alhamdulillah, lumayan dapat peralatan seperti ini” kata Murtinah, salah satu pedagang yang mendapatkan bantuan alat cuci tangan dan paket desinfektan tersebut. “Akan segera saya pasang di depan warung, biar dipakai cuci tangan sama orang-orang yang datang ke warung saya. Soalnya takut juga kalau sampai tertular seperti di tivi-tivi itu” pungkasnya.

Pak Sutamar, kepala Dusun Wonokerto menejelaskan bahwa bantuan peralatan seperti ini bukan hanya baru sekali ini ada. Kemarin dari pihak pemerintah Desa Wonokerto juga telah membagikan bantuan peralatan serupa kepada warga masyarakatnya. Tapi tentu saja jumlahnya selalu kurang. Maka ia berharap akan ada lebih banyak lagi bantuan serupa maupun dalam bentuk lainnya dari berbagai instansi terkait diberikan kepada masyarakat Wonokerto. “Ya kalau bisa hingga seluruh warung dan tempat umum mendapatkan bantuan ini, satu tempat satu begitu” tambahnya.
Diharapkan, dengan semakin terjangkaunya sarana dan prasarana pencegahanpenyebaran virus corona ini, juga semakin menambah kesadaran masyarakat untuk mengadopsi sikap hidup sehat di musim pandemi ini, khususnya program Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).

Share and Enjoy !

Shares
1 Suro, Malam Refleksi dan Introspeksi

1 Suro, Malam Refleksi dan Introspeksi

wonokerto.ngawikab.id – Jawa dan Islam telah mengalami akulrurasi budaya dalam puluhan abad persinggunganya. Hal ini tampak dalam keseluruhan aspek budaya Jawa,. Termasuk dalam hal penanggalan, budaya Jawa mengadopsi sistem penanggalan Islam/kalender komariah, yaitu sistem penanggalan yang berbasis peredaran bulan. Dalam sistem penanggalan ini, hari pertama dimulai pada bulan Muharram atau orang Jawa menyebutnya dengan Wulan Suro.

Masyarakat yang tinggal di Jawa memiliki berbagai ragam tradisi unik dalam menyambut kedatangan tahun baru Islam. Di Keraton Yogyakarta, dikenal tradisi ‘mubeng beteng’, berjalan kaki bersama-sama mengelilingi benteng keraton. Masyarakat luas juga mengenal tradisi Jamasan, yaitu pembersihan dan perawatan gaman/senjata yang dilakukan pada malam Suro. Selain itu, banyak juga warga masyarakat yang melakukan tirakatan, doa bersama, renungan, dan sebagainya.

Tradisi yang sudah berlaku bagi masyarakat Desa Wonokerto setiap datang malam 1 Suro adalah tirakatan atau doa bersama di pendopo Desa. Tahun 2020 ini, acara dilaksanakan pada 7 September kemarin. Dimulai pada jam 19.00 WIB, acara dihadiri sekitar 100 orang warga undangan, baik dari unsur pemerintah desa, BPD, LKMD, tokoh masyarakat, tokoh Agama, dan masyarakat luas. Acara berjalan dengan lancar, meski dilaksanakan dalam suasana pandemi Covid 19. Warga dan para undangan dengan tertib selalu melaksanakan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan selalu cuci tangan.

Dalam pengantarnya, Bu Siti Moasri, kepala desa Wonokerto menyampaikan bahwa memang sudah sepatutnya kita selalu introspeksi, muhasabah diri, mengkoreksi diri sendiri. Tidak lain agar kita selalu memperbaiki diri, meningkatkan kualitas karya kita, serta memperbaiki segala kekeliruan kita di masa lalu. Ditekankan oleh beliau, malam tahun baru Islam ini hendaknya dijadikan momentum introspeksi dan kedepannya diri kita akan menjadi lebih baik lagi.

Sementara itu, dalam uraian muqoddimahnya Modin desa Wonokerto, Pak Sapingi menjelaskan bahwa tirakat adalah istilah jawa yang artinya menahan diri, menjalankan laku. Tak lain adalah untuk meraih suatu keinginan maupun tujuan yang kita inginkan dalam hidup. Tirakat ini merupakan sikap hidup yang pas dan selaras kita lakukan dalam suasana pandemi seperti ini, dengan doa dan harapan agar cobaan pagebluk ini segera diangkat oleh Allah SWT dari muka bumi.

Selanjutnya, dipandu oleh beliau Pak Yai Zainal Arifin Al Hafidz, seluruh hadirin mengumandangkan dzikir dan wirid berupa surat-surat pendek dan kalimah thayyibah bersama-sama dengan khidmat. Hal ini dilakukan sebagai wujud istighotsah, meminta keselamatan kepada Allah untuk tahun-tahun ke depan, serta memohon dijauhkan dari segala aral dan bencana, bagi pemerintah desa Wonokerto pada khususnya, dan bagi segenap warga masyarakat desa Wonokerto.

Seusai acara doa, warga masyarakat saling beramah-tamah dan bersama-sama menikmati hidangan yang disediakan. Selain sebagai sarana doa bersama, acara seperti ini penting juga untuk menjalin silaturahmi antar warga dari berbagai dusun yang berbeda. Suasana guyub dan rukun sangat berkesan dari acara ini. Meski jarang bertemu, diantara mereka saling bertukar kabar dan bercengkerama hingga acara usai.

Share and Enjoy !

Shares
Air dan Leluhur Desa Wonokerto (Refleksi Tradisi Nyadran di Dusun Sendangrejo Kidul)

Air dan Leluhur Desa Wonokerto (Refleksi Tradisi Nyadran di Dusun Sendangrejo Kidul)

Wonokerto.ngawikab.id – Air memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan. Setiap segala sesuatu yang hidup dijadikan dari air. Begitulah firman yang Maha Kuasa menjelaskan. Oleh sebab itu sejak awal mula peradaban manusia, pemukiman penduduk pasti tidak jauh dari sumber air. Bahkan sejak jaman prasejarah, bisa dilihat bahwa awal peradaban manusia Trinil berasal dari pinggiran aliran Sungai Bengawan Solo.

Jika ditelaah lebih jauh, jejak-jejak sejarah leluhur Desa Wonokerto juga tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sumber mata air. Menurut cerita beberapa sesepuh, di bagian utara tepi aliran sungai sebelah barat Desa Wonokerto (di sekitar sawah mogok) dulu pernah ada pemukiman awal penduduk desa. Nama-nama Dusun seperti Sendangrejo Lor, Sendangrejo Kidul, Sendangembes, dan juga Sumberagung sangat erat kaitannya dengan air dan sumber air. Hal itu menunjukkan betapa eratnya hubungan masyarakat Desa Wonokerto dengan sumber air, sejak jaman leluhur dulu. Bahkan, di setiap masing-masing dusun di Desa Wonokerto, pasti ditemui sendang atau punden yang dikeramatkan oleh sebagian penduduk.

Ketika masyarakat sudah mengenal peralatan sederhana yang memungkinkan mereka untuk menggali dan membuat sumur, pemukiman di tepi sungai mulai mereka tinggalkan. Mereka mulai menempati bagian tengah desa yang relatif jauh dari sungai. Mungkin awalnya, satu sumur digunakan oleh sekelompok masyarakat satu dusun. Disinyalir, sendang atau punden tersebut dulunya adalah satu-satunya sumur yang digunakan bersama sebagai pusat aktifitas kelompok masyarakat awal dusun tersebut. Tidak mengherankan, jika pada awal tahun 80 an masih ditemui ritual-ritual pengkeramatan yang dilakukan di sekitar sendang tersebut.

Seingat penulis, jika ada orang yang memiliki gawe atau hajatan, pasti menyelenggarakan selamatan atau kenduri kecil-kecilan di sekitar sendang tersebut. Juga setiap ada kelahiran, pasti dikirimkan takir (wadah yang terbuat dari daun pisang) lengkap dengan telur dan kembang setaman dan ditaruh di dekat sendang. Dan yang paling ramai, biasanya setiap bulan Suro, diadakan selamatan bersama seluruh warga dusun, yang kadang dibarengi dengan penyembelihan seekor kambing.

Namun, seiring berjalannya waktu dan dengan datangnya kebudayaan modern, budaya semacam itu mulai hilang. Bahkan di sebagian dusun, sendang itu sudah tidak ada lagi, tertimbun tanah dan menjadi satu dengan sawah pertanian. Namun berbeda halnya dengan Dusun Sendangrejo Kidul. Pada hari Jumat, 28 Agustus 2020, Masyarakat di Dusun ini masih nguri-uri budaya selamatan di sekitar punden/sendang. Tidak ketinggalan mereka juga bergotong royong menyembelih seekor kambing untuk di olah dan dimakan bersama-sama. Bahkan tak jarang didatangkan pula hiburan group musik campur sari untuk menjadikan acara tersebut menjadi meriah. Hal itu dilakukan masyarakat sebagai ungkapan kebahagiaan dan wujud rasa syukur. Juga sebagai usaha untuk melestarikan budaya leluhur.

Lebih dari itu, sebenarnya dari tradisi seperti ini kita bisa ambil pelajaran yang penting. Dahulu, saat air begitu melimpah, sungai tidak pernah kering, maka kehidupan berjalan dengan lestari. Ikan selalu melimpah di sungai-sungai, bahkan dapat ditangkap dengan tangan kosong. Tumbuhan selalu menghijau bahkan saat musim kemarau. Sumur-sumur timbo milik warga selalu agung airnya. Itu masih bisa di jumpai hingga tahun 80-90an.

Tetapi sekarang sudah tidak bisa dijumpai lagi sumur timbo di pemukiman penduduk. bahkan sumber air dengan sanyo jika musim kemarau tiba sudah tidak keluar airnya. Sungai-sungai segera kering sesaat setelah musim hujan mereda di bulan April, dan tetap kering selama musim kemarau. Sudah tidak ditemukan lagi ikan-ikan melimpah di sungai. Tanaman bambu di sepanjang aliran sungai banyak yang layu dan mengering. Hal itu akibat hilangnya hutan di daerah hulu/lereng gunung lawu, serta diperparah dengan eksploitasi air besar-besaran untuk pertanian dengan sibel listrik.

Dengan peringatan nyadran yang dilaksanakan di dekat sumber air/punden/sendang, kita seperti diingatkan lagi, bahwa air adalah sumber kehidupan bukan hanya bagi manusia, tapi juga bagi hewan-hewan dan juga tumbuhan. Oleh karena itu, manusia hendaknya jangan semena-mena mengeksploitasi sumber air hanya demi kepentingannya sendiri dengan mengabaikan keharmonisan alam. Kita dituntut bijaksana dalam mengelola air tanah agar manfaatnya bisa lestari hingga anak cucu nanti.

Share and Enjoy !

Shares